Harga TBS Sawit Sumsel Naik di Periode Oktober 2025: Peluang Baru bagi Pelaku Usaha Muda
Di posting oleh Fedro -
Senin, 12 Januari 2026 pukul 11:05
Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Sumatera Selatan kembali menunjukkan tren positif. Pada Periode I Oktober 2025, harga TBS untuk usia tanaman 10–20 tahun resmi naik menjadi Rp3.613/kg, meningkat dari periode sebelumnya yang berada pada angka Rp3.585/kg.
Kenaikan ini memang tergolong tipis, namun tetap menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha perkebunan dan industri sawit. Tren ini menunjukkan bahwa stabilitas harga mulai terbentuk, sekaligus menggambarkan optimisme terhadap kondisi pasar komoditas perkebunan di wilayah Sumsel.
Sawit, Komoditas Strategis yang Menggerakkan Ekonomi Daerah
Sebagai salah satu komoditas unggulan Sumatera Selatan, kelapa sawit memegang peran penting dalam menjaga perputaran ekonomi daerah. Sektor ini tidak hanya menjadi sumber pendapatan petani dan pelaku industri, tetapi juga berkontribusi besar terhadap:
pembukaan lapangan kerja,
pertumbuhan industri pengolahan,
aktivitas logistik komoditas perkebunan, serta
peningkatan ekspor dan daya saing daerah.
Dengan naiknya harga TBS, peluang bagi sektor hilir maupun usaha terkait turut terbuka semakin lebar.
Momentum bagi Pengusaha Muda untuk Terlibat Lebih Jauh
BPD HIPMI Sumatera Selatan melihat momentum kenaikan harga ini sebagai peluang yang harus dimanfaatkan oleh pengusaha muda. Rantai nilai industri sawit sangat luas dan terbuka untuk inovasi, mulai dari:
pengolahan produk turunan,
teknologi agrikultur,
manajemen distribusi,
peningkatan kualitas dan sertifikasi,
hingga pemasaran produk berbasis sawit.
Dengan pendekatan yang berkelanjutan dan inovatif, pelaku usaha muda dapat ikut berperan membangun industri sawit yang lebih modern, ramah lingkungan, dan berdaya saing tinggi.
Mendorong Ekosistem Sawit yang Berkelanjutan
Dalam konteks pembangunan ekonomi daerah, HIPMI Sumsel berkomitmen untuk mendorong kolaborasi antara petani, pelaku usaha, dan pemerintah. Penguatan ekosistem sawit tidak hanya tercermin dari harga komoditas yang stabil, tetapi juga dari:
praktik pertanian berkelanjutan,
peningkatan kualitas produksi,
hilirisasi industri, serta
inovasi teknologi yang memperkuat nilai tambah lokal.